Che Guevara (1966)
Surat ini ditulis untuk Hildita, anak Che Guevara yang paling besar, pada ulang tahunnya yang ke sepuluh.
15 Februari 1966
Hildita tercinta,
Aku tulis surat sekarang padamu, walaupun mungkin akan sampai di tanganmu sangat terlambat. Namun aku ingin kau mengetahui bahwa aku senantiasa memikirkanmu dan aku berharap kau amat berbahagia di hari ulang tahunmu ini. Kau sudah hampir menjadi gadis dewasa sekarang, dan aku tak bisa lagi menulis surat padamu seperti saat kau masih kecil dulu, mendongeng hal-hal yang lucu atau dongeng kosong.
Kau harus tahu bahwa aku masih berada di tempat yang jauh dan meninggalkanmu untuk beberapa lama, menjalankan apa yang dapat aku perjuangkan melawan musuh-musuh kita. Bukan sesuatu hal luar biasa, namun aku sedang berbuat sesuatu, dan kupikir kau akan senantiasa bangga pada ayahmu ini, sebagaimana aku padamu.
Ingatlah, masih ada tahun-tahun penuh perjuangan di hadapan kita, dan bahkan ketika kau sudah menjadi wanita dewasa, kau harus mengerjakan bagian tugasmu dalam perjuangan. Sementara ini, kau harus mempersiapkan dirimu, jadilah revolusioner sejati --di usiamu kini tugasmu adalah belajar, sebanyak-banyaknya, dan senantiasalah siap mendukung keadilan dan kebenaran. Juga, patuhlah pada ibumu dan janganlah kau berpikir hendak mengetahui segalanya terlalu dini. Saatnya kan datang padamu.
Kau harus berjuang diantara yang terbaik di sekolah. Terbaik dalam setiap pengertian, dan kau sudah mengetahui apa artinya ini: belajar dan sikap revolusioner.
Dengan kata lain: tindak-tanduk yang baik, kesungguhan, cinta pada revolusi, persaudaraan, dsb.
Aku sendiri tidak demikian di usia sepertimu saat ini, namun aku hidup di dalam masyarakat yang berbeda, dimana manusia adalah musuh manusia lain. Sekarang kau memiliki kemudahan hidup di jaman yang lain dan kau harus mensyukurinya.
Jangan lupa main ke rumah-rumah tetangga kita untuk berteman dengan anak-anak lain dan sarankan mereka untuk belajar dan bertingkah laku baik. Terutama Aleidita, yang membutuhkan perhatian besar darimu sebagai kakaknya yang tertua.
Baiklah, tuan putri. Sekali lagi kuharap kau amat berbahagia di ulang tahunmu ini. Peluk mesra untuk ibumu dan Gina. Aku memberimu peluk erat seerat-eratnya hingga akhir perpisahan kita ini.
Ayahmu
Tampilkan postingan dengan label Cerita santai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita santai. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Juli 2010
Surat Kepada Hildita
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
06.05
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Surat Selamat Tinggal Kepada Fidel Castro
Che Guevara (1965)
Surat ini dibacakan oleh Fidel Castro pada tanggal 3 oktober 1965, pada rapat terbuka yang mengumumkan Komite Sentral Partai Komunis Kuba yang baru terbentuk dengan dihadiri oleh istri Guevara dan anak-anaknya, Castro menyatakan:
"Saya hendak bacakan sebuah surat, yang ditulis tangan dan kemudian diketik, dari kawan Ernesto Guevara, yakni penjelasan diri ....Tertulis demikian: 'havana' --tanpa tanggal, surat yang musti dibacakan pada kesempatan yang amat baik, namun sesungguhnya dibuat pada tanggal 1 April tahun ini."
Pembacaan, surat ini merupakan penjelasan terbuka pertama kali sejak guevara tidak pernah nampak lagi di Kuba.
Havana,
Tahun Pertanian
Fidel:
Pada saat ini aku teringat banyak hal --ketika aku pertama kali bertemu denganmu di rumah Maria Antonia, ketika kau mengusulkan aku untuk ikut serta, seluruh ketegangan terlibat dalam persiapan itu.(peperangan/gerilya melawan Batista, pent)
Suatu ketika ketegangan-ketegangan itu akan menghampiri kita lagi dan menagih nyawa kita, dan kemungkinan nyata dari fakta itu memukul kita semua. Di kemudian hari tahulah kita bahwa itu benar, bahwa dalam revolusi salah satu pihak akan menang atau mati (bila itu benar revolusi). Banyak kawan yang berjatuhan sepanjang jalan menuju kemenangan.
Saat ini segala sesuatunya tidak lagi terlalu dramatis, karena kita lebih matang. Namun kejadian-kejadian kembali terulang. Aku merasa bahwa aku telah memnuhi kewajibanku yang mengikatkan aku pada revolusi Kuba,secara teritorial, dan kuucapkan selamat berpisah padamu, pada rakyatmu, yang sekarang rakyatku juga.
Secara resmi aku mengundurkan diri dari kedudukan dalam kepemimpinan nasional partai, kedudukan, sebagai menteri, pangkat komandanku, dan kewarganegaraan Kuba-ku. Tak ada yang legal yang mengikatku dengan Kuba. Satu-satunya ikatan adalah hal lain --ikatan yang tak bisa diputuskan seperti pemberhentian seseorang dari sebuah jabatan.
Merenungkan kehidupan masa laluku, aku yakin aku telah bekerja dengan cukup jujur dan pengabdian untuk mengkonsolidasikan kejayaan revolusioner. Satu-satunya kesalahanku yang serius adalah tidak punya kepercayaan yang besar padamu saat pertama di Sierra Maestra dulu, dan tidak segera yakin akan kualitasmu sebagai seorang pemimpin dan seorang revolusioner.
Hari-hari kehidupanku kulewati dengan indah di sini, dan di sisimu aku merasa bangga memiliki rakyat yang demikian tangguh menghadapi saat-saat penuh penderitaan dalam krisis Karibia.
Jarang sekali ada negarawan yang lebih ulung darimu menghadapi saat-saat seperti itu. Akupun bangga mengikutimu tanpa keraguan, mengidentifikasikan dengan jalan pikiran,pandangan,perhitungan menghadapi bahaya, dan prinsip-prinsipmu. Kali ini bangsa-bangsa lain mengharapkan sumbangsihku. Dan aku bisa melakukannya tanpa mengikutsertakanmu karena tanggung jawabmu yang besar sebagai pimpinan kuba, dan tibalah saatnya bagi kita untuk berpisah.
Ketahuilah, bahwa aku melakukan tugas ini dengan campuran perasaan bahagia dan sedih. Kutinggalkan di sini harapan-harapanku yang paling murni sebagai seorang pembangun dan seluruh ketulusanku yang paling dalam.Kutinggalkan orang-orang yang telah menganggapku anak. Itu semua sesungguhnya menimbulkan luka yang dalam bagiku.Akan kubawa ke medan juang baru segala hal yang kau ajarkan padaku, semangat revolusioner rakyat kita, perasaan untuk memenuhi kewajiban yang amat suci: berjuang menentang imperialisme dimanapun ia adanya. Ini yang akan mengobati dan mengeringkan luka di jiwaku.
Kunyatakan sekali lagi bahwa aku melepaskan Kuba dari tanggung jawab apapun juga, kecuali teladan-teladan yang diberikannya. Kalau saja saat-saat akhir hayatku aku berada di bawah langit lain, pikiranku yang terakhir adalah tentang rakyat Kuba dan terutama tentang dirimu. Aku amat berterima kasih atas ajaran-ajaranmu, teladan-teladanmu, dan aku akan memegangnya hingga konsekuensiku yang paling akhir dari tindakanku.
Aku selalu mengidentifikasikan diri dengan kebijaksanaan luar negeri dari revolusi kita, dan akan meneruskannya. Dimanapun aku berada, aku akan merasa bertanggung jawab terhadap revolusi Kuba, dan aku kan menjaganya. Aku tak merasa malu bahwa aku tak meninggalkan kekayaan materi untuk anak-anak dan istriku; aku bahagia dengan cara seperti itu. Aku tak memintakan apapun untuk mereka, karena negara akan mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan untuk mereka.
Aku ingin mengatakan banyak hal padamu dan pada rakyat kita, namun aku merasa hal itu tak perlu. kata-kata tak akan mampu mengekspresikan apa yang ingin kuungkapkan itu, dan kupikir tak ada manfaatnya untuk membuat coretan lebih banyak lagi di sini.
Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan)
Patria o muerte! (Tanah air atau mati)
Kupeluk kau dengan sepenuh semangat revolusionerku.
Che
Surat ini dibacakan oleh Fidel Castro pada tanggal 3 oktober 1965, pada rapat terbuka yang mengumumkan Komite Sentral Partai Komunis Kuba yang baru terbentuk dengan dihadiri oleh istri Guevara dan anak-anaknya, Castro menyatakan:
"Saya hendak bacakan sebuah surat, yang ditulis tangan dan kemudian diketik, dari kawan Ernesto Guevara, yakni penjelasan diri ....Tertulis demikian: 'havana' --tanpa tanggal, surat yang musti dibacakan pada kesempatan yang amat baik, namun sesungguhnya dibuat pada tanggal 1 April tahun ini."
Pembacaan, surat ini merupakan penjelasan terbuka pertama kali sejak guevara tidak pernah nampak lagi di Kuba.
Havana,
Tahun Pertanian
Fidel:
Pada saat ini aku teringat banyak hal --ketika aku pertama kali bertemu denganmu di rumah Maria Antonia, ketika kau mengusulkan aku untuk ikut serta, seluruh ketegangan terlibat dalam persiapan itu.(peperangan/gerilya melawan Batista, pent)
Suatu ketika ketegangan-ketegangan itu akan menghampiri kita lagi dan menagih nyawa kita, dan kemungkinan nyata dari fakta itu memukul kita semua. Di kemudian hari tahulah kita bahwa itu benar, bahwa dalam revolusi salah satu pihak akan menang atau mati (bila itu benar revolusi). Banyak kawan yang berjatuhan sepanjang jalan menuju kemenangan.
Saat ini segala sesuatunya tidak lagi terlalu dramatis, karena kita lebih matang. Namun kejadian-kejadian kembali terulang. Aku merasa bahwa aku telah memnuhi kewajibanku yang mengikatkan aku pada revolusi Kuba,secara teritorial, dan kuucapkan selamat berpisah padamu, pada rakyatmu, yang sekarang rakyatku juga.
Secara resmi aku mengundurkan diri dari kedudukan dalam kepemimpinan nasional partai, kedudukan, sebagai menteri, pangkat komandanku, dan kewarganegaraan Kuba-ku. Tak ada yang legal yang mengikatku dengan Kuba. Satu-satunya ikatan adalah hal lain --ikatan yang tak bisa diputuskan seperti pemberhentian seseorang dari sebuah jabatan.
Merenungkan kehidupan masa laluku, aku yakin aku telah bekerja dengan cukup jujur dan pengabdian untuk mengkonsolidasikan kejayaan revolusioner. Satu-satunya kesalahanku yang serius adalah tidak punya kepercayaan yang besar padamu saat pertama di Sierra Maestra dulu, dan tidak segera yakin akan kualitasmu sebagai seorang pemimpin dan seorang revolusioner.
Hari-hari kehidupanku kulewati dengan indah di sini, dan di sisimu aku merasa bangga memiliki rakyat yang demikian tangguh menghadapi saat-saat penuh penderitaan dalam krisis Karibia.
Jarang sekali ada negarawan yang lebih ulung darimu menghadapi saat-saat seperti itu. Akupun bangga mengikutimu tanpa keraguan, mengidentifikasikan dengan jalan pikiran,pandangan,perhitungan menghadapi bahaya, dan prinsip-prinsipmu. Kali ini bangsa-bangsa lain mengharapkan sumbangsihku. Dan aku bisa melakukannya tanpa mengikutsertakanmu karena tanggung jawabmu yang besar sebagai pimpinan kuba, dan tibalah saatnya bagi kita untuk berpisah.
Ketahuilah, bahwa aku melakukan tugas ini dengan campuran perasaan bahagia dan sedih. Kutinggalkan di sini harapan-harapanku yang paling murni sebagai seorang pembangun dan seluruh ketulusanku yang paling dalam.Kutinggalkan orang-orang yang telah menganggapku anak. Itu semua sesungguhnya menimbulkan luka yang dalam bagiku.Akan kubawa ke medan juang baru segala hal yang kau ajarkan padaku, semangat revolusioner rakyat kita, perasaan untuk memenuhi kewajiban yang amat suci: berjuang menentang imperialisme dimanapun ia adanya. Ini yang akan mengobati dan mengeringkan luka di jiwaku.
Kunyatakan sekali lagi bahwa aku melepaskan Kuba dari tanggung jawab apapun juga, kecuali teladan-teladan yang diberikannya. Kalau saja saat-saat akhir hayatku aku berada di bawah langit lain, pikiranku yang terakhir adalah tentang rakyat Kuba dan terutama tentang dirimu. Aku amat berterima kasih atas ajaran-ajaranmu, teladan-teladanmu, dan aku akan memegangnya hingga konsekuensiku yang paling akhir dari tindakanku.
Aku selalu mengidentifikasikan diri dengan kebijaksanaan luar negeri dari revolusi kita, dan akan meneruskannya. Dimanapun aku berada, aku akan merasa bertanggung jawab terhadap revolusi Kuba, dan aku kan menjaganya. Aku tak merasa malu bahwa aku tak meninggalkan kekayaan materi untuk anak-anak dan istriku; aku bahagia dengan cara seperti itu. Aku tak memintakan apapun untuk mereka, karena negara akan mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan untuk mereka.
Aku ingin mengatakan banyak hal padamu dan pada rakyat kita, namun aku merasa hal itu tak perlu. kata-kata tak akan mampu mengekspresikan apa yang ingin kuungkapkan itu, dan kupikir tak ada manfaatnya untuk membuat coretan lebih banyak lagi di sini.
Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan)
Patria o muerte! (Tanah air atau mati)
Kupeluk kau dengan sepenuh semangat revolusionerku.
Che
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
06.04
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Surat Kepada Orang Tuanya
Surat Kepada Orang Tuanya
Che Guevara (1965)
Rakyat tua tercinta:
Sekali lagi aku merasai di bawah tumitku tulang-tulang rusuk Rocinante.(1) Sekali lagi, aku turun ke jalan dengan pedang dan perisai di tanganku. Hampir sepuluh tahun yang lalu, aku menulis surat perpisahan yang lain padamu. Seingatku, aku tak perduli lagi tidak menjadi serdadu yang baik dan menjadi dokter yang baik. Menjadi dokter tidak lagi menarik bagiku; aku bukanlah serdadu yang buruk.
Tak ada yang berubah pada esensinya, terkecuali bahwa aku jauh lebih sadar. Marxisme-ku telah mengakar dan menjadi lebih murni. Aku yakin bahwa perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya pemecahan bagi rakyat yang berjuang demi membebaskan dirinya, dan aku setia dengan keyakinanku ini. Banyak orang menyebutku sebagai seorang petualang, dan itulah aku --hanya satu hal bedanya: seseorang yang mengorbankan kulit luarnya untuk membuktikan kebenaran di dalamnya.
Mungkin saja ini kali yang terakhir. Aku tak memintanya, namun tentulah itu berada di dalam kenyataan kemungkinan logisnya. Seandainya harus demikian, terimalah peluk kasihku yang terakhir kali. Aku amat menyayangimu, hanya saja aku tak tahu bagaimana menyatakan cinta kasihku ini. Aku sangat kaku dalam tindakanku, dan aku berpikir bahwa kadang-kadang kau tidak akan memahamiku. Adalah tidak mudah untuk memahamiku. Meski begitu. kumohon saat ini percayalah padaku.
Saatnya sekarang sebuah ketekunan yang telah aku poles dengan sebuah keriangan seniman akan menopang kaki-kaki yang gemetaran dan paru-paru yang letih ini. Aku akan melaksanakannya.
Berikan restumu sekali lagi kepada serdadu kecil abad ke dua puluh ini.
Cium mesra untuk Celia, Roberto, Juan Martin dan Patotin, Beatriz, kepada semuanya. Untuk kalian, peluk erat dari anakmu yang keras kepala dan handel ini,
Ernesto
Che Guevara (1965)
Rakyat tua tercinta:
Sekali lagi aku merasai di bawah tumitku tulang-tulang rusuk Rocinante.(1) Sekali lagi, aku turun ke jalan dengan pedang dan perisai di tanganku. Hampir sepuluh tahun yang lalu, aku menulis surat perpisahan yang lain padamu. Seingatku, aku tak perduli lagi tidak menjadi serdadu yang baik dan menjadi dokter yang baik. Menjadi dokter tidak lagi menarik bagiku; aku bukanlah serdadu yang buruk.
Tak ada yang berubah pada esensinya, terkecuali bahwa aku jauh lebih sadar. Marxisme-ku telah mengakar dan menjadi lebih murni. Aku yakin bahwa perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya pemecahan bagi rakyat yang berjuang demi membebaskan dirinya, dan aku setia dengan keyakinanku ini. Banyak orang menyebutku sebagai seorang petualang, dan itulah aku --hanya satu hal bedanya: seseorang yang mengorbankan kulit luarnya untuk membuktikan kebenaran di dalamnya.
Mungkin saja ini kali yang terakhir. Aku tak memintanya, namun tentulah itu berada di dalam kenyataan kemungkinan logisnya. Seandainya harus demikian, terimalah peluk kasihku yang terakhir kali. Aku amat menyayangimu, hanya saja aku tak tahu bagaimana menyatakan cinta kasihku ini. Aku sangat kaku dalam tindakanku, dan aku berpikir bahwa kadang-kadang kau tidak akan memahamiku. Adalah tidak mudah untuk memahamiku. Meski begitu. kumohon saat ini percayalah padaku.
Saatnya sekarang sebuah ketekunan yang telah aku poles dengan sebuah keriangan seniman akan menopang kaki-kaki yang gemetaran dan paru-paru yang letih ini. Aku akan melaksanakannya.
Berikan restumu sekali lagi kepada serdadu kecil abad ke dua puluh ini.
Cium mesra untuk Celia, Roberto, Juan Martin dan Patotin, Beatriz, kepada semuanya. Untuk kalian, peluk erat dari anakmu yang keras kepala dan handel ini,
Ernesto
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
06.03
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Surat Kepada Anak-anaknya
Surat Kepada Anak-anaknya
Che Guevara (1965)
Untuk anak-anakku
Hildita, Aleidita, Camilo, Celia,dan Ernesto terkasih:
Bacalah baik-baik surat ini, karena aku tidak lagi bersamamu. Praktis kau tidak akan mengingatku lagi, dan kau yang paling kecil tidak akan ingat padaku sama sekali.
Ayahmu ini seorang manusia yang bertindak atas keyakinan yang dipegangnya dan setia pada pendiriannya.
Tumbuhlah kalian sebagai revolusioner yang baik. Belajarlah yang tekun hingga kalian dapat menguasai teknologi, yang akan memungkinkan kalian menguasai alam. Camkan bahwa revolusilah hal yang pokok, dan masing-masing dari kita, seorang diri, tak akan ada artinya.
Di atas segalanya, kembangkan selalu perasaan yang dalam pada siapapun yang mengalami ketidakadilan, dimanapun didunia ini. Inilah kualitas yang paling indah dari seorang revolusioner.
Hingga kapanpun juga, anak-anakku. Aku masih berharap melihatmu. Cium mesra dan peluk erat dari
Ayah
Che Guevara (1965)
Untuk anak-anakku
Hildita, Aleidita, Camilo, Celia,dan Ernesto terkasih:
Bacalah baik-baik surat ini, karena aku tidak lagi bersamamu. Praktis kau tidak akan mengingatku lagi, dan kau yang paling kecil tidak akan ingat padaku sama sekali.
Ayahmu ini seorang manusia yang bertindak atas keyakinan yang dipegangnya dan setia pada pendiriannya.
Tumbuhlah kalian sebagai revolusioner yang baik. Belajarlah yang tekun hingga kalian dapat menguasai teknologi, yang akan memungkinkan kalian menguasai alam. Camkan bahwa revolusilah hal yang pokok, dan masing-masing dari kita, seorang diri, tak akan ada artinya.
Di atas segalanya, kembangkan selalu perasaan yang dalam pada siapapun yang mengalami ketidakadilan, dimanapun didunia ini. Inilah kualitas yang paling indah dari seorang revolusioner.
Hingga kapanpun juga, anak-anakku. Aku masih berharap melihatmu. Cium mesra dan peluk erat dari
Ayah
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
06.02
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Jumat, 30 Juli 2010
Kerabat kita_ Sutan Takdir Alisyahbana
Bunda,
masih kudengar petuamu bergetar
waktu ku tertegun di ambang pintu,
melepaskan diriku dari pelikmu :
“Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,
Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir,
Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”.
Telah lama aku mengembara :
jauh rantau kejelajah,
banyak selat dan sungai kuseberangi,
gunung dan gurun kuedari.
Beragam warna, bahasa dan budaya manusia,
teman aku bersantap, bercengkerama dan bercumbu,
lawan aku bertengkar dan berselisih.
Di runtuhan Harapan dan Pompeyi aku ziarah,
Dari menara Eifel dan Empire State Building
aku tafakur memandang semut manusia.
Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan umat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
sega Islandia yang megah di padang salju yang putih.
Bunda,
Pulang dari rantau yang jauh
berita girang kubawa kepadamu,
resap renungan petua keramat,
sendu engkau bisikkan di ambang pintu :
Di mana-mana aku menjejakkan kaki,
aku berjejak di bumi yang satu.
Dan langit yang kunjung
di mana-mana langit kita yang esa.
Bunda,
Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita
kaya budi kaya hati,
pusparagam ciptaan dan dambaan.
masih kudengar petuamu bergetar
waktu ku tertegun di ambang pintu,
melepaskan diriku dari pelikmu :
“Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,
Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir,
Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”.
Telah lama aku mengembara :
jauh rantau kejelajah,
banyak selat dan sungai kuseberangi,
gunung dan gurun kuedari.
Beragam warna, bahasa dan budaya manusia,
teman aku bersantap, bercengkerama dan bercumbu,
lawan aku bertengkar dan berselisih.
Di runtuhan Harapan dan Pompeyi aku ziarah,
Dari menara Eifel dan Empire State Building
aku tafakur memandang semut manusia.
Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan umat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
sega Islandia yang megah di padang salju yang putih.
Bunda,
Pulang dari rantau yang jauh
berita girang kubawa kepadamu,
resap renungan petua keramat,
sendu engkau bisikkan di ambang pintu :
Di mana-mana aku menjejakkan kaki,
aku berjejak di bumi yang satu.
Dan langit yang kunjung
di mana-mana langit kita yang esa.
Bunda,
Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita
kaya budi kaya hati,
pusparagam ciptaan dan dambaan.
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
07.38
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Sistem Jenius itu Bernama Korupsi
Korupsi itu kalau boleh saya padankan dengan: ‘mencuri’, ‘ngembat’, ‘maling’, ‘ngutil’, ‘ngrampok’ dan segala kata yang sepadan dengannya atau lebih seram darinya.
Korupsi yang sudah menjadi sebuah sistem sudah tak dianggap sebagai perbuatan tabu bagi pelakunya. Namanya juga sudah menjadi sistem, siapapun yang duduk dalam institusi yang terlanjur terkait dengan sistem korupsi ini, ya harus ikut dalam alur sistem. Kalau ada yang mencoba untuk berbeda dengan sistem yang ada atau bahkan ada yang mencoba melawan arus sistem ini, maka tunggulah kehancuran si orang tersebut.
Dalam sistem korupsi, berlaku logika kebalikan. Warna merah bisa dianggap biru, hitam boleh saja dikatakan putih, kalau; sistem korupsi menghendakinya demikian. Bagi yang mencoba berbeda dengan sistem jenius ini, maka dianggap ’subversif’, ‘tidak nasionalis’, ‘tidakcengli’, ’sok suci’, ’sok alim’ dan lain sebagainya, bahkan pada sebutan ‘pengkhianat’.
Sistem korupsi yang sudah terbangun puluhan tahun sudah sangat mengakar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari mulai tender bernilai triliunan dan utang luar negeri pun harus bersinggungan dengan sistem yang satu ini. Dari meja-meja mewah diruangan ber AC hingga di jalan-jalan raya yang kumal berdebu, bahkan hingga pelosok desa. Petani yang membeli pupuk dengan harga tak wajar, barangkali bisa dijadikan bukti adanya pengaruh dari sistem ini.
Sistem raksasa yang namanya korupsi sudah menjadi kiblat dan acuan dalam pembuatan UU, barangkali lenyapnya ‘ayat tembakau’ menjadi bukti sakti adanya indikasi kesana.
Saya yakin masih banyak pribadi jujur yang bekerja dengan tulus ikhlas demi bangsa dan negara, akan tetapi mereka tak kuasa melawan sistem yang sudah menjadi alat teror paling efektif di negeri ini.
Korupsi yang sudah menjadi sebuah sistem sudah tak dianggap sebagai perbuatan tabu bagi pelakunya. Namanya juga sudah menjadi sistem, siapapun yang duduk dalam institusi yang terlanjur terkait dengan sistem korupsi ini, ya harus ikut dalam alur sistem. Kalau ada yang mencoba untuk berbeda dengan sistem yang ada atau bahkan ada yang mencoba melawan arus sistem ini, maka tunggulah kehancuran si orang tersebut.
Dalam sistem korupsi, berlaku logika kebalikan. Warna merah bisa dianggap biru, hitam boleh saja dikatakan putih, kalau; sistem korupsi menghendakinya demikian. Bagi yang mencoba berbeda dengan sistem jenius ini, maka dianggap ’subversif’, ‘tidak nasionalis’, ‘tidakcengli’, ’sok suci’, ’sok alim’ dan lain sebagainya, bahkan pada sebutan ‘pengkhianat’.
Sistem korupsi yang sudah terbangun puluhan tahun sudah sangat mengakar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari mulai tender bernilai triliunan dan utang luar negeri pun harus bersinggungan dengan sistem yang satu ini. Dari meja-meja mewah diruangan ber AC hingga di jalan-jalan raya yang kumal berdebu, bahkan hingga pelosok desa. Petani yang membeli pupuk dengan harga tak wajar, barangkali bisa dijadikan bukti adanya pengaruh dari sistem ini.
Sistem raksasa yang namanya korupsi sudah menjadi kiblat dan acuan dalam pembuatan UU, barangkali lenyapnya ‘ayat tembakau’ menjadi bukti sakti adanya indikasi kesana.
Saya yakin masih banyak pribadi jujur yang bekerja dengan tulus ikhlas demi bangsa dan negara, akan tetapi mereka tak kuasa melawan sistem yang sudah menjadi alat teror paling efektif di negeri ini.
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
06.45
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Kisah Serigala di Negeri Kambing
Alkisah, di sebuah negeri kambing di hutan Nusantara, pemilihan kepala daerah rencananya akan dilaksanakan. Tapi panitia penyelenggara yang baru tiga hari dibentuk masih cemas karena sampai hari ini baru ada sepasang calon yang berani mendaftar. Bisik-bisik pun mulai terdengar di banyak tempat.
“Jadi pemimpin di negeri kambing memang susah. Tanggung jawabnya besar.”
“Ya, jadi pemimpin itu jangan coba-coba, tak hanya modal berani. Harus punya kejujuran, niat baik, kerja keras, dan keahlian.”
“Susahnya mengelola permasalahan…”
“Harus siap menderita melayani rakyat…”
Lantas siapa lagi yang berani mencalonkan diri? Nun jauh dari negeri kambing, ada empat ekor serigala mendengar kabar pemilihan kepala daerah itu.
“Grrgh, aku punya aide! Ada pribahasa bangsa manusia bilang, serigala berbulu domba. Grrgh, kalian paham maksudku?
“Umm, maksudmu menyamar jadi mereka?!”
“Cerdas!”
“Eh, maksudmu menyamar jadi manusia atau kambing?”
“Ya kambing, tolol!”
“Menyamar jadi kambing?!”
“Ya iya lah, masa ya iya dong! Bayangkan saja, jika kita tinggal di sana, tiap hari kita bisa makan kambing diam-diam, tanpa harus letih lari-lari mengejar.”
Hening sejenak. Mereka berpandangan, menyeringai.
“Sepakat!!!” Keempat serigala itu bersorak.
Mereka pun mulai mengatur siasat dan bekerja keras mati-matian berjuang menculik empat kambing menjelang subuh, mengambil bulu-bulunya dan berusaha merancang pakaian kambing. Berhari-hari mereka pelajari hal-ihwal perkambingan, sosio-kulturalnya, tingkah laku, kebiasaan, bahasa, politik, jenis-jenis rumput, olah vokal dan sebagainya. Mereka mulai menyamar. Setelah mereka rasa cukup, berangkatlah keempat serigala itu ke negeri kambing.
–o0o–
Sesampainya di negeri kambing, keempat serigala itu langsung bergiliran mengajukan diri jadi kandidat. Dengan memendam niat busuk, mereka mulai melakukan mobilisasi massa, mempengaruhi, pendekatan kebudayaan, sampai cuap-cuap obral janji penuh dusta. Berhari-hari mereka bahu-membahu mendekati rakyat kambing. Keempat serigala itu rela berpuasa tak makan daging, demi kepentingan politik.
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Kita menderita dulu tak makan daging, setelah terpilih nanti, kita makan mereka sepuasanya. Selamanya, bro.” Bisik seekor serigala pada kawannya.
“Ya, jaga wibawa, tetap meyakinkan. Kabarnya ada tiga pasang kandidat. Sepasang calon kambing bodoh itu akan jadi lawan kita. Jangan sampai mereka terpilih. Pokonya, salah satu pasangan dari kita harus menang, untuk masa depan perut kita!”
Grrgh…
Keempat pasangan serigala itu kemudian mulai menyiapkan materi kampanye yang penuh janji menggiurkan untuk rakyat kambing, tentang kesejahteraan dan keadilan. Keesokan harinya, mereka memulai kampanye di hadapan ribuan rakyat kambing. Dengan suara yang meyakinkan, keempat serigala itu mulai mengobral janji.
“Mbik, saudara-saudara sebangsa, jika kami terpilih nanti, kami janji akan bla…bla…”
“Ehem, hidup rakyat! Percayalah, pilihlah kami, dalam waktu setahun kami janji akan bla…bla…”
Begitulah, semua kandidat sudah menyampaikan kampanye politiknya. Rakyat kambing bersorak riuh. Mereka terpesona dengan janji-janji masa depan.
–o0o—
Keesokan harinya, pemilihan mulai dilakukan. Harap-harap cemas menunggu hasilnya. Seharian penghitungan suara dilakukan. Hasilnya, salah satu pasangan serigala yang menyamar akhirnya terpilih. Dalam hati mereka, keempat serigala itu bersuka-cita. Kemenangan salah satu pasangan dari mereka adalah jaminan bagi kebutuhan perut mereka di masa yang akan datang.
Setelah mereka menjabat di negeri kambing, mereka mulai melaksanakan niat busuknya. Diam-diam satu-persatu mereka terkam kambing, hampir setiap hari. Mereka melakukannya dengan santai, tanpa dicurigai. Siasat yang berhasil. Penyamaran yang sempurna.
Mereka juga menimbun daging kambing di suatu tempat di luar daerah. Setiap menjelang subuh, keempat serigala itu menyembunyikan daging sisa di semak-semak. Sampai suatu ketika, keempat serigala yang menyamar jadi kambing itu kepergok kawanan serigala yang lain. Ketika mereka tengah istirahat kekenyangan, keempat serigala yang lupa membuka pakaian kambingnya itu diterkam ramai-ramai.
“Grrgh, tumben nih kambing-kambing masuk sarang kita! Wow, makan besar!”
Keempat serigala yang menyamar terkejut bukan main.
“Oh, tidak! Kami adalah kawan kalian, kami serigala juga, kami sedang menyamar jadi kambing. Percayalah! Kami juga…”
Grrrgh.. Srreet… Krekh..
“Aaakh… Tolong! Percayalah! Kami juga serig…”
Tapi apa daya menghadapi gerombolan kawan-kawannya yang sangat lapar. Keempat serigala yang berpakaian kambing itu akhirnya mati dicabik-cabik kawan-kawanya sendiri. Mereka hancur dimakan, habis dilahap. Begitulah, perbuatan jahat akan mendapat balasannya. Mereka yang menipu, pemimpin yang tak punya niat baik pada rakyat, dan malah menyengsarakannya, akan segera menemukan kehancurannya…
“Jadi pemimpin di negeri kambing memang susah. Tanggung jawabnya besar.”
“Ya, jadi pemimpin itu jangan coba-coba, tak hanya modal berani. Harus punya kejujuran, niat baik, kerja keras, dan keahlian.”
“Susahnya mengelola permasalahan…”
“Harus siap menderita melayani rakyat…”
Lantas siapa lagi yang berani mencalonkan diri? Nun jauh dari negeri kambing, ada empat ekor serigala mendengar kabar pemilihan kepala daerah itu.
“Grrgh, aku punya aide! Ada pribahasa bangsa manusia bilang, serigala berbulu domba. Grrgh, kalian paham maksudku?
“Umm, maksudmu menyamar jadi mereka?!”
“Cerdas!”
“Eh, maksudmu menyamar jadi manusia atau kambing?”
“Ya kambing, tolol!”
“Menyamar jadi kambing?!”
“Ya iya lah, masa ya iya dong! Bayangkan saja, jika kita tinggal di sana, tiap hari kita bisa makan kambing diam-diam, tanpa harus letih lari-lari mengejar.”
Hening sejenak. Mereka berpandangan, menyeringai.
“Sepakat!!!” Keempat serigala itu bersorak.
Mereka pun mulai mengatur siasat dan bekerja keras mati-matian berjuang menculik empat kambing menjelang subuh, mengambil bulu-bulunya dan berusaha merancang pakaian kambing. Berhari-hari mereka pelajari hal-ihwal perkambingan, sosio-kulturalnya, tingkah laku, kebiasaan, bahasa, politik, jenis-jenis rumput, olah vokal dan sebagainya. Mereka mulai menyamar. Setelah mereka rasa cukup, berangkatlah keempat serigala itu ke negeri kambing.
–o0o–
Sesampainya di negeri kambing, keempat serigala itu langsung bergiliran mengajukan diri jadi kandidat. Dengan memendam niat busuk, mereka mulai melakukan mobilisasi massa, mempengaruhi, pendekatan kebudayaan, sampai cuap-cuap obral janji penuh dusta. Berhari-hari mereka bahu-membahu mendekati rakyat kambing. Keempat serigala itu rela berpuasa tak makan daging, demi kepentingan politik.
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Kita menderita dulu tak makan daging, setelah terpilih nanti, kita makan mereka sepuasanya. Selamanya, bro.” Bisik seekor serigala pada kawannya.
“Ya, jaga wibawa, tetap meyakinkan. Kabarnya ada tiga pasang kandidat. Sepasang calon kambing bodoh itu akan jadi lawan kita. Jangan sampai mereka terpilih. Pokonya, salah satu pasangan dari kita harus menang, untuk masa depan perut kita!”
Grrgh…
Keempat pasangan serigala itu kemudian mulai menyiapkan materi kampanye yang penuh janji menggiurkan untuk rakyat kambing, tentang kesejahteraan dan keadilan. Keesokan harinya, mereka memulai kampanye di hadapan ribuan rakyat kambing. Dengan suara yang meyakinkan, keempat serigala itu mulai mengobral janji.
“Mbik, saudara-saudara sebangsa, jika kami terpilih nanti, kami janji akan bla…bla…”
“Ehem, hidup rakyat! Percayalah, pilihlah kami, dalam waktu setahun kami janji akan bla…bla…”
Begitulah, semua kandidat sudah menyampaikan kampanye politiknya. Rakyat kambing bersorak riuh. Mereka terpesona dengan janji-janji masa depan.
–o0o—
Keesokan harinya, pemilihan mulai dilakukan. Harap-harap cemas menunggu hasilnya. Seharian penghitungan suara dilakukan. Hasilnya, salah satu pasangan serigala yang menyamar akhirnya terpilih. Dalam hati mereka, keempat serigala itu bersuka-cita. Kemenangan salah satu pasangan dari mereka adalah jaminan bagi kebutuhan perut mereka di masa yang akan datang.
Setelah mereka menjabat di negeri kambing, mereka mulai melaksanakan niat busuknya. Diam-diam satu-persatu mereka terkam kambing, hampir setiap hari. Mereka melakukannya dengan santai, tanpa dicurigai. Siasat yang berhasil. Penyamaran yang sempurna.
Mereka juga menimbun daging kambing di suatu tempat di luar daerah. Setiap menjelang subuh, keempat serigala itu menyembunyikan daging sisa di semak-semak. Sampai suatu ketika, keempat serigala yang menyamar jadi kambing itu kepergok kawanan serigala yang lain. Ketika mereka tengah istirahat kekenyangan, keempat serigala yang lupa membuka pakaian kambingnya itu diterkam ramai-ramai.
“Grrgh, tumben nih kambing-kambing masuk sarang kita! Wow, makan besar!”
Keempat serigala yang menyamar terkejut bukan main.
“Oh, tidak! Kami adalah kawan kalian, kami serigala juga, kami sedang menyamar jadi kambing. Percayalah! Kami juga…”
Grrrgh.. Srreet… Krekh..
“Aaakh… Tolong! Percayalah! Kami juga serig…”
Tapi apa daya menghadapi gerombolan kawan-kawannya yang sangat lapar. Keempat serigala yang berpakaian kambing itu akhirnya mati dicabik-cabik kawan-kawanya sendiri. Mereka hancur dimakan, habis dilahap. Begitulah, perbuatan jahat akan mendapat balasannya. Mereka yang menipu, pemimpin yang tak punya niat baik pada rakyat, dan malah menyengsarakannya, akan segera menemukan kehancurannya…
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
06.41
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Sabtu, 19 Juni 2010
Terimakasih Guru
Betapa besar jasamu
kepeda semua orang
Tugasmu sebagai guru
Engkaulah pemberi paling setia
Tiap akar ilmu miliknya
Pelita dan lampu segala
Untuk manusia sebelum jadi dewasa.
Dialah ibu dialah bapa juga sahabat
Alur kesetiaan mengalirkan nasihat
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
Seribu tahun katanya menjadi hikmat.
Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang peguam menang bicara
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa sahaja menjadi dewasa;
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.
Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
Dia adalah guru mewakili seribu buku;
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
Semakin bererti tugasnya kepada negara.
Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
Budi yang diapungkan di dulangi ilmu
Panggilan keramat "cikgu" kekal terpahat
Menjadi kenangan ke akhir hayat.
kepeda semua orang
Tugasmu sebagai guru
Engkaulah pemberi paling setia
Tiap akar ilmu miliknya
Pelita dan lampu segala
Untuk manusia sebelum jadi dewasa.
Dialah ibu dialah bapa juga sahabat
Alur kesetiaan mengalirkan nasihat
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
Seribu tahun katanya menjadi hikmat.
Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang peguam menang bicara
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa sahaja menjadi dewasa;
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.
Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
Dia adalah guru mewakili seribu buku;
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
Semakin bererti tugasnya kepada negara.
Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
Budi yang diapungkan di dulangi ilmu
Panggilan keramat "cikgu" kekal terpahat
Menjadi kenangan ke akhir hayat.
Label:
Cerita santai
Jumat, 18 Juni 2010
Belajar Melihat Rakyat
Di dalam seni pertunjukan masyarakat feodalistik rakyat tidak ditampilkan sebagai elemen penting dalam cerita pertunjukan, Raja-raja, para satria adala tokoh central yang ditonjolkan. Tokoh-tokoh kecil yang mempresentasikan sosok rakyat seperti punakawan ditampilkan sebagai figur-figur insidental yang penampilannya lebih banyak sebagai pengocok perut pendengar melalui adegan goro-goro. Demikianlah tanpa bisa dirawar dan di kritik, raja, satria dan para ningrat menjadi idola para pendengar. sedangkan figur-figur yang mempresentasikan para rakyat seperti punakawan dikesampingkan. sebagai asesoris atau figura.
Dimasa kekuasaan raja-raja feodal seni pertunjukan emang tidak menampilkan kondidi-kondisi ril didalam masyarakat atau penderitaan yang dialami rakyat. sehingga para penguasa ketika itu tidak pernah melihat nasib rakyat nya sendiri meski hanya melalui seni pertunjukan.
mainset dan mentalitas tidak melihat rakyat ini sampai sekarang masih berlangsung, sehingga mentri perhubungan tidak pernah tau ada rakyat berdiri selama 12 jam dalam gegbrong kereta ekonomi jurusan jakarta - Jogya sambil menahan kencing dan buang air besar.kereta toilet kotor dan bau didalam gerbrong dijadikan tempat duduk oleh penumpang yang berebut tidak kebagian tempat.
atau sang mentri tidak tau bahwa jalur-jalur kereta api umumnya di penuhi oleh banyak sampah dan menimbulkan bau, sihingga tidak ada kenyamanan bagi penumpang dari kalangan rakyat kecil. atau mungkin mentri yang membidangi kebudayaan dan pariwisata tidak pernah tau bahwa group-group teater yang selama ini menjadi bagian simpul-simpul kebudayaan terpaksa hidup senin-kamis tanpa ada sokongan danperhatian yang pasti. sehingga di era cyberspace seperti ini masih terdapat teater keliling di zaman dardanela atau zaman rintisan group sandiwara Miss Tjitjih, seperti halnya group teater Qosidah melatih yang membawakan lakon-lakon suara dibawah pimpinan kalong prajasasmita dan Evi Pohan yang merupakan anak asuh Dramawan besar WS.Rendra.
Para elit dan partai memang tidak mengakar pada rakyat, sebaliknya mereka bertindak manipulatif terhada Rakyat. kalau dulu Soekarno mengatakan letakkan telingamu ke Bumi supaya sehingga bisa kau dengar suara dan denyut jantung rakyat, para elit dan partai-partai sekarang tidak ubahnya para seperti para Tirani dan despot di zaman kerajaan feodal tempo dulu, tidak mau melihat nasib rakyatnya sendiri. lebih suka menerima laporan ABS (asal bapak senang) dengan cara berfikir legalistik-srukturalis dan sikap formal yang normatif. padahal kita tau dizaman yang tidak Normal seperti ini yang dipenuhi oleh para normal perilaku normatif tidak akan menyelesaikan persoalan dengan kat alain sudah Basi.
dari
iniorangbiasa@yahoo.com
Dimasa kekuasaan raja-raja feodal seni pertunjukan emang tidak menampilkan kondidi-kondisi ril didalam masyarakat atau penderitaan yang dialami rakyat. sehingga para penguasa ketika itu tidak pernah melihat nasib rakyat nya sendiri meski hanya melalui seni pertunjukan.
mainset dan mentalitas tidak melihat rakyat ini sampai sekarang masih berlangsung, sehingga mentri perhubungan tidak pernah tau ada rakyat berdiri selama 12 jam dalam gegbrong kereta ekonomi jurusan jakarta - Jogya sambil menahan kencing dan buang air besar.kereta toilet kotor dan bau didalam gerbrong dijadikan tempat duduk oleh penumpang yang berebut tidak kebagian tempat.
atau sang mentri tidak tau bahwa jalur-jalur kereta api umumnya di penuhi oleh banyak sampah dan menimbulkan bau, sihingga tidak ada kenyamanan bagi penumpang dari kalangan rakyat kecil. atau mungkin mentri yang membidangi kebudayaan dan pariwisata tidak pernah tau bahwa group-group teater yang selama ini menjadi bagian simpul-simpul kebudayaan terpaksa hidup senin-kamis tanpa ada sokongan danperhatian yang pasti. sehingga di era cyberspace seperti ini masih terdapat teater keliling di zaman dardanela atau zaman rintisan group sandiwara Miss Tjitjih, seperti halnya group teater Qosidah melatih yang membawakan lakon-lakon suara dibawah pimpinan kalong prajasasmita dan Evi Pohan yang merupakan anak asuh Dramawan besar WS.Rendra.
Para elit dan partai memang tidak mengakar pada rakyat, sebaliknya mereka bertindak manipulatif terhada Rakyat. kalau dulu Soekarno mengatakan letakkan telingamu ke Bumi supaya sehingga bisa kau dengar suara dan denyut jantung rakyat, para elit dan partai-partai sekarang tidak ubahnya para seperti para Tirani dan despot di zaman kerajaan feodal tempo dulu, tidak mau melihat nasib rakyatnya sendiri. lebih suka menerima laporan ABS (asal bapak senang) dengan cara berfikir legalistik-srukturalis dan sikap formal yang normatif. padahal kita tau dizaman yang tidak Normal seperti ini yang dipenuhi oleh para normal perilaku normatif tidak akan menyelesaikan persoalan dengan kat alain sudah Basi.
dari
iniorangbiasa@yahoo.com
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
08.02
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Sukabumi Ngariung
Nandang; pendzoliman terhadap konstitusi, Dedi; Mempersiapkan pengganti menyambut hari Matinya
- Istana Rakyat [06/06/10]
Sukabumi : Saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami perubahan yang sangat drastis bagian dari buag Reformasi, rakya bisa berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persolan yang terjadi melalui ide protes maupun perlawanan. termasuk secara ekonomi... tingkat ketergantungan Ekonomi terhadap asing semakin kuat. hal ini disampaikan Oleh Nandang Albian Dosen STAI/STISIP Syamsul Ulum pada acara "Sukabumi Ngariung" nonton dan Ngopi bareng pada sabtu 05/06/10 di kampus STISIP Syamsul Ulum, dengan tema 'Tiada kemenangan tanpa Tantangan, Tiada Pembebasan Tanpa perlawanan' acara yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Asal Sukabumi (BK HIMASI) bekerja sama dengan BEM STAI/STISIP Syamsul Ulum Sukabumi. saat ini telah terjadi penzoliman konstitusi yang dilakukan oleh penyelenggara negara terhadap hasil kesepakatan mereka, walaupun UUD sudah mengalami kesekian kali amandemen namun dalam pelaksanaannya masih tetap tidak ada perubahan, bahkan Nandang berharap ada proses amandemen UUD lagi namun bukan hanya merubah bentuk (Reformasi) tetapi dengan standar Piagam djakarta atau Piagam Madinah dengan pola Revolusi. hal senada disampaikan juga oleh Angggota komisi III DPRD Kota Sukabumi Rahmat, sila keempat Pancasila saat ini sudah tidak berfungsi lagi, karena pertanggungjawaban pimpinan daerah sudah tidak melalui perwakilan lagi namun kepala daerah bertanggung jawab langsung kepada Rakyat melalui Gubernur, sehingga tidak ada ruang diskusi dan koreksi dari DPRD lagi, lalu yang menjadi pertanyaan adalah rakyat mana yang diberikan pertanggungjawaban tersebut. Diskusi yang dibarengi dengan nonton Film perjuangan ini dihadiri oleh 50 Mahasiswa dari berbagai kampus dan santri ini, hadir juga menjadi komentator Dedi Suryadi Sekjend DPP Liga Muslim Indonesia. Dedi mengatakan bahwa kalo tanggal 01 Juni dijadikan hari lahirnya pancasila perlu dipertanyakan kembali kebenaran sejarahnya, karena pada saat itu belum menjadi satu kesepakatan baru menjadi preambulan, dan disahkan pada 5 juli 1965 setela dekrit Presiden. bukan hanya itu, kalaupun Pancasila ada hari lahirnya maka tugas kita sekarang sebagai generasi muda adalah mempersiapkan alternatif sebagai penggantinya, sebab logika sederhana adalah apabila ada hari lahir maka pasti ada hari matinya, artinya disaat hari mati pancasila itu tiba harus ada penggantinya yang perlu disiapkan dari sekarang. memaknai pancasila dari sisi pelaksanaan mendapat sorotan yang tajam dari kelompok Buruh termasuk dari ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota Sukabumi. dari amanat UUD terhadap kesejateraan buruh sangat jauh dari realitas amanat tersebut, karena saat ini buruh hanya menjadi alat yang dipekerjakan namun hanya kepentingan asing yang mendapat perhatian dari pemerintah
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
05.32
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Rabu, 16 Juni 2010
PENANTIAN TAK BERUJUNG
Langit Hitam Memekat Tepat Di Dalam Kelopak Mata
Angin Malam Menusuk Tulang Belulang Berselimut Daging Kering Kerontang
Telapak Kaki Kapalan Menancap Pada Tanah Air Yang Penuh Duri
Gontai Menanjak Sampai Peluh Mengering Bermandikan Keringat Duka
Suara-Suara Berdesing Seperti Peluru Yang Hendak Bersarang Di tubuh
Mereka Menghisap Darah, Meremuk Tulang, Memeras Otak
Memaksa Untuk Melanjutkan Hidup Yang Penuh Dengan Umpatan dan Kesal
Tak Ada Arah, Tak Ada Hulu Yang Menghilir, Tak Ada Dasar Yang Tegar
Lubang Hitam Pun Menyergap Dalam Gelap
Membuat Terperosok Dalam Lorong Yang Tak Berujung
Rintihan, Keluh Kesah, Kematian, Putus Asa Menjadi Sangat Akrab
Mencandra Mahluk Indonesia Raya
Ciputat, 15 Juni 2009
Edi Benkid
Angin Malam Menusuk Tulang Belulang Berselimut Daging Kering Kerontang
Telapak Kaki Kapalan Menancap Pada Tanah Air Yang Penuh Duri
Gontai Menanjak Sampai Peluh Mengering Bermandikan Keringat Duka
Suara-Suara Berdesing Seperti Peluru Yang Hendak Bersarang Di tubuh
Mereka Menghisap Darah, Meremuk Tulang, Memeras Otak
Memaksa Untuk Melanjutkan Hidup Yang Penuh Dengan Umpatan dan Kesal
Tak Ada Arah, Tak Ada Hulu Yang Menghilir, Tak Ada Dasar Yang Tegar
Lubang Hitam Pun Menyergap Dalam Gelap
Membuat Terperosok Dalam Lorong Yang Tak Berujung
Rintihan, Keluh Kesah, Kematian, Putus Asa Menjadi Sangat Akrab
Mencandra Mahluk Indonesia Raya
Ciputat, 15 Juni 2009
Edi Benkid
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
02.26
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
PILIHAN HIDUP AKTIVIS
Lelakiku/Perempuanku yang kucintai adalah penggerak laju REVOLUSI
Lelaki/perempuan yang mencintaiku harus tahu bagaimana mengoyak-ngoyak tabir
atau daging
Paham-menyelam ke kedalaman mataku
Dan tahu bahwa dalam diriku terlena sandaran
Bagi kemesraan, layaknya burung srigunting yang tembus pandang.
Lelaki/perempuan yang mencintaiku
Tak akan mengkukuhiku layaknya barang dagangan
Tak juga memamerkanku bak piala olahraga
Ia akan tegak di sampingku
Mencintaiku layaknya aku mencintainya dan kukuh di sampingnya
Lelaki/perempuan yang mencintaiku
Akan kuat bagai pohon-pohon ceibo
Kukuh dan merindangi sebagaimana adanya,
Jernih layaknya pagi di bulan Desember.
Lelaki/perempuan yang mencintaiku
Tak akan mencurigai senyumku
Tak juga khawatir akan ketebalan rambutku.
Ia akan takzim pada kesedihan, kesunyian.
Dan dengan khusuk, ia akan mencumbu perutku,
Layaknya memainkan gitar, membiramakan masalah yang menyenangkan dari
badanku yang sedang lena
Lelaki/perempuan yang mencintaiku
Mampu mengungkapkan bahwa aku bisa
Menjadi tilam tempat ia melepas lelah dan kurawat
Seorang kawan dengannya aku bisa membagi rahasia-rahasia keintiman.
Danau tempat mengambang,
Tanpa takut jangkar komitmennya
Akan menghalangi pesawat
Atau mengharuskannya menjadi burung.
Lelaki/perempuan yang mencintaiku
Mampu menulis sajak hidupnya
Menatanya setiap hari
Dengan ketakziman akan masa depannya.
Tapi di atas segalanya
Lelaki/perempuan yang mencintaiku haruslah menyayangi rakyat
Bukan dalam berbagai kategori abstrak
Yang dibualkan dengan hati-hati
Tapi sesuatu yang nyata, kongkrit
Untuk siapa seseorang menunjukkan kecintaannya dengan tindakan
Menyerahkan hidupnya bila perlu
Lelaki/perempuan yang mencintaiku
Akan mengenali wajahku di tengah medan perang
Dan dengan lutut menekuk ke tanah
ia akan mencintaiku
Apalagi saat kami berdua sama-sama menembaki musuh.
Lelaki/perempuan cintaku
Tak akan gentar menyerahkan hidupnya
Tak akan takut mendapatkan dirinya dalam gempuran yang tak terpahami.
Di plaza yang sesak kerumunan akbar,
Ia mampu berteriak “Aku mencintai kau”
Atau, di atap gedung, tanpa tedeng aling-aling mendeklarasikan
Proklamasi haknya untuk merasakan
Emosi yang paling indah dan manusiawi.
Lelaki/perempuan cintaku
Tak akan menghindari dapur
Tak juga popok anak-anak kita
Cintanya akan seperti angin yang menyejukkan
Menyingkirkan awan impian dan
Kesalahan masa lalu, yang berabad memisahkan kami,
Dengan keindahannya masing-masing.
Lelaki/perempuan cintaku
Tak akan mencetakku dan menstandarisasiku
Ia akan menyuguhkanku hawa, ruang
Mengharainya agar tumbuh dan berkembang
Layaknya REVOLUSI
Yang memekarkan setiap hari yang baru
Dengan awal satu KEMENANGAN BARU.
(Ginconda Belli)
Gionconda Belli adalah penyair perempuan Nikaragua, mantan gerilyawati Sandinista.
(Catatan dua perempuan pemberontak yg setia melawan kuasa TIRANI: Djenar Maesa Ayu dan Windha Desiawati)
"KESETARAAN BUKAN SEKEDAR KATA-KATA!!!"
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
01.54
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
MENGGAPAI MATAHARI sang Aktivis
Di sebuah ruangan sederhana. Begitu sepi dan sunyi. Tak ada kawan yang datang. Begitu juga kawan yang ditunggu ternyata tak jadi datang dengan alasan hujan dan genting rumah yang bocor. Jadi harus memilih: memperbaiki rumah daripada membicarakan masa depan organisasi. Pertemuan pun dibatalkan.
Menjelang subuh. Ahonk tak juga bisa tidur. Pikirannya entah lari kemana. Terkadang ke mas kanak-kanak. Lalu meloncat jauh ke masa sekolah menengah pertama dan masa remajanya akhir ketika menggunakan seragam putih abu-abu. Ia seperti bercerita pada diri sendiri dan itu tidak soal. Di sekolahnya yang ketat dengan aturan hidup yang didisiplinkan dengan bel yang selalu berdering biasa melakukan refleksi terlebih bila hendak melakukan kerja-kerja besar: misalnya facebook. Daripada tak bisa tidur, Ahonk pun bangun menyalakan computer dan mulai mencari berbagai sumber ilmu:
Sebelum memasuki bangku kuliah, aku sudah sering mendengar aksi-aksi demonstrasi mahasiswa. Di sekolah menengah, aku dan teman-teman sering menyebut-nyebut demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Bunderan Tugu Adipura Kota sukabumi adalah tempat favorit demonstrasi mahasiswa yang sering kudengar. Selain aksi-aksi demonstrasi yang mengangkat poster-poster tuntutan, kami juga memperbincangkan sepak terjang siswa seperti pementasan-pementasan keseniannya yang tak biasa. Happening art, begitulah orang-orang menyebutnya. Tak lupa kami pun menyimak statement-statement aksi mahasiswa di koran-koran, radio dan televisi serta artikel-artikel tentang gerakan mahasiswa yang sesekali muncul di koran. serta nyanyian kritik sosial para pengamen jalanan di Lampu merah depangedung juang '45,Singkatnya, berita-berita aksi solidaritas mahasiswa terhadap rakyat tertindas, terpinggirkan dan miskin menggairahkan hidup kami, setidaknya diriku yang tinggal di kontrakan yang tak tergugat untuk memenuhi panggilan Ilahi. Bukankah membela rakyat kecil, tertindas, tergusur adalah perbuatan nabi sepanjang hidupnya sampai wafat? Mahasiswa-mahasiswi yang berdemonstrasi bersama rakyat itu telah memanggul berbagai spanduk. Merekalah idola kami. Sepertinya kami juga tak peduli alias takut bila idola kami ini dipenjarakan dengan tuduhan yang tak main-main: makar dan komunis ketika kasus pembangunan korupsi para penyelenggara negara sampai ditelinga kami, mengisi berita-berita televisi dan koran-koran.
Sejauh yang kutahu: mahasiswa-mahasiswi itu bergerak karena ganti rugi untuk memperjuangkan nasib rakyat melalui parlemen jalanan yang sangat merugikan rakyat. Padahal uang yang dikorupsi tersebut dan pejabat dibiayai oleh Pajak Rakyat, Bank Centiry, Pembangunan pagar DPRD Kota, setumpuk korupsi di kabupaten yang tak terungkap. Mahasiswa yang tergerak hatinya atas kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat kecil itu pun membentuk Kelompok Forum Aktivis Sukabumi untuk Rakyat(FRAKSI-RAKYAT) sebagai alat perjuangan dan menyatukan berbagai solidaritas yang berasal dari berbagai kalangan.mahasiswa dan mahasiswi berdatangan untuk menyampaikan pembelaan dan solidaritas. Setidaknya kelompok ini melakukan aksi solidaritas ke berbagai instansi Daerah. Sungguh tahun-tahun yang bergerak dan akan terus bergerak sesudah tahun-tahun
Mahasiswa-mahasiswi itu tampak juga tak ragu bahwa dengan membela para Rakyat yang malang itu, cap komunis bisa langsung dilekatkan pada mereka yang berarti juga lonceng kematian pada karir gemilang mereka sebagai mahasiswa. Huh..bukankah kedaulatan itu berada ditangan rakyat?
Salah satu dari mereka adalah mahasiswi dengan wajah yang memberanikan. Entah siapa namanya. Wajahnya yang sempat sekilas muncul di berita Televisi tak mudah kulupakan. Seakan ia berkata padaku: tak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Sementara itu terdengar pula gemuruh suara lantang: "Hidup Rakyat! Hidup Mahasiswa! Rakyat Bersatu Tak bisa dikalahkan, Revolusi...Revolusi sampai Mati!"
Lalu, seorang aktivis gaek. Namanya sebelumya sebelumnya pernah kami kenal ternyata senior kami angkatan 98 (Dedy Cimenk). Dalam deretan angkatan. YF, Ekek, dan Lainnya Ase, Atenk, dikenalkan kepada kami sebagai pelopor gerakan di Sukabumi.
Pramoedya Ananta Toer? Kami tak kenal. Di sekolah Menengah Pertama, namanya memang disebut dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi tak pernah diajarkan atau diperkenalkan karya-karyanya walau beberapa judul cukup disebutkan. Namanya cukup dideretkan dalam bagian Pengarang Angkatan 1945 dengan riwayat singkat satu alinea saja. Dia dilahirkan di Blora yang dalam pengertianku sampai Sekolah Menengah Atas tempat berkembangnya Kebudayaan Samin: orang-orang desa yang lugu yang dengan caranya sendiri melawan kolonialisme Belanda.
Aku menemukannya nama itu dari TM (mantan ketua BK HIMASI). Walau nama Pramoedya Ananta Toer juga diperkenalkan kepada kami sebagai salah satu Sastrawan Angkatan 45, tak satupun dari Karya Novel ataupun cerpennya yang dibacakan di kelas. Tapi kini, novelnya Bumi Manusia menjadi perbincangan keras dan perdebatan keras. Novel yang terbit tahun 1980 itu dilarang Kejaksaan Agung setahun kemudian. Walau begitu novel Pram berikutnya tetap terbit dan terus dilarang: Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988). Beberapa mahasiswa yang membaca dan mendiskusikannya, ditangkap dan dipenjarakan. Aksi-aksi solidaritas menuntut pembebasan merekapun merebak di beberapa kota sambil menyerukan Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi. Di Yogyakarta, aksi solidaritas dibubarkan dengan paksa dan kekerasan. Peserta demonstrasi dihajar tanpa ampun. Aku dengar: ada yang patah kaki dan hidung.
Di Djakarta, cerpen Pram yang ditulis pada 17 Desember 1955 itu bercerita tentang Jakarta yang tak tertata sebagai kota besar dengan begitu semakin tak berbudaya dan manusiawi. Manusia pun telah dipaksa merendahkan diri menjadi kuda-kuda tunggangan dengan menggenjot becak-becak.
Kami pun ingat kata kuno yang seharusnya sudah tak bermakna di masa kini: Katakombe. Penindasan Kekuasaan Roma terhadap datangnya agama baru yang membela budak bahkan menyerukan egalite telah melahirkan para martir Mujahid yang berani. Bagaimana mereka bisa tahan menerima rupa-rupa siksa? Sungguh demi hidup di surga sesudah mati
Ahonk berhenti sejenak. Ia belum berhenti. Suara keybod agak tak terdengar, lancar dan jernih karena ia setidaknya pernah belajar mengetik 10 jari.
Masa-masa perploncoan sudah dilewati. Mulailah kini menjalani hidup sebagai mahasiswa yang selalu menjadi impian ketika masih di sekolah menengah: tak harus berseragam, boleh gondrong, bisa pulang malam, bersandal jepit dan sebagainya. Bebaslah menentukan diri sendiri, termasuk ikut ramai-ramai mengkritik pemerintah yang tak becus tanpa takut diskors dan dipecat Kepala Sekolah yang konservatif, anti demokrasi dan anti diskusi.
Pada aksi membela Rakyat menggugat pemerintah karena telah menyesengsarakan kami, aku pun bertemu dengan dia, mahasiswi sekampus dengan wajah yang memberanikan itu. sebelumnya dia atasku disalahsato organisasi ekstra kampus tak membuat aku minder.
"Hai!" kataku.
"Hai!" balasnya.
"Ahonk. Panggil saja aku Ahonk. Ok?"
"Ok!
"Nama kamu?" kata ku.
"Ima (bukan nama sebenarnya!" serunya di antara gemuruh massa yang rally menuju kantor KPUD. Aku tak menyebut Juang.
"Darimana?"
"Sukabumi"
Lalu, kami menjadi akrab. Kami bercakap apa saja bahkan pada diskusi-diskusi yang kami suka. Mengagumkan dan Menyenangkan. Aku sendiri tak pernah berpikir untuk berteman denganya.
"Yang kaya akan diusirnya dengan tangan hampa dan yang berkuasa dan congkak akan diturunkan dari takhtanya!", seru kami hampir berteriak,"Kamu ingat aksi di depan kantor KPUD itu?"
"Ya"
"Selalu?"
"Selalu. Tak kan pernah lupa. Itulah keberanianku yang pertama".
"Ya. Sebaiknya selalu kau ingat bila kamu rindu padaku. Aku akan pergi".
"Kemana? Tak boleh tahu aku?".
"Boleh. Bila kamu terus mengikuti jalan ini, pastilah kita akan bertemu." Ia tertawa ngakak.
"Ok. Tapi siapa namamu? Semua orang di sini dipanggil Ahonk. Laki dan perempuan."
Ia tertawa lagi seperti menertawakan ketololanku: "Ya. Kau mulai pintar sekarang. Gimana, Honk? Apa agendamu sekarang?" terus ia tertawa dan mulai memanggil aku, Ahonk juga.
Sejak itu kami sering bertemu. "Ahonk, kata orang seorang pejuang berhak mendapatkan Mawar Merah yang berani seperti ini. Tapi, hati-hati mengambilnya. Duri-durinya bisa membawa kamu pada kematian yang berdarah-darah. kata teman se kampus ku
Pada saat diskusi di Istana Rakyat. Kata teman aktivis FRAKSI RAKYAT, nenek moyangmu menyukai Melati. Melati adalah keberanian. Begitulah orang-orang Jawa menghiasi keris kejantanan mereka dengan roncean Melati ketika datang ke pesta-pesta. Orang bilang itu adalah lambang keberanian Arya Penangsang menentang Pajang yang makin bergerak ke udik pedalaman. Roncean Melati perlambang usus Arya Penangsang yang terburai akibat tombak Kyai Plered lalu disangkutkan ke keris. Tentu kamu tak akan berbuat setolol itu kan?" In Solidarity.
28 Maret 2010 (100 hari SBY), corat-coret "Gulingkan SBY, Ganti Rezim, Ganti sistem" ada di mana-mana? di tembok-tembok, gedung-gedung Mulailah pengerahan dan penangkapan terhadap para aktivis. Akan tetapi rakyat yang muak terhadap rejim Orde Baru Jilid II, mulai menolak SBY, Boediono dan Sri Mulyani. Memasuki tahun baru 1998, bom meledak di Jakarta seakan berteriak: tak lama lagi pemerintahan otoriter tumbang. Rejim makin kalap dan panic. Penculikan-penculikan terhadap aktivis mulai dilakukan. Perlawanan tak berhenti. Mei 1998, Jendral Besar itupun mundur diiringi dengan caci-maki dan hujatan...sampai ke liang kubur. Tapi kasus korupsi yang dituduhkan kepadanya tak sanggup menyeretnya ke penjara, kasus kejahatan kemanusiaan yang dituduhkan kepadanya juga tak sanggup menyeretnya ke penjara. Tak ada pengadilan rakyat baginya. Justru gerakan mulai terfragmentasi, makin surut, makin kecil..terpecah-pecah seakan mencari alur revolusinya sendiri-sendiri dalam situasi yang baru, yang lebih bebas dan terbuka di antara badai neoliberalisme yang mengancam. Persatuan!Persatuan! tentu adalah jalan keselamatan. Barangkali isu korupsi yang kini merebak dan menjadikan rakyat muak terhadap tindak korupsi dapat menjadi jalan menuju persatuan nasional menghadapi penjajahan asing yang membuat kita jadi bangsa kuli di negeri sendiri. Bagaimana pun korupsi adalah sisa-sisa feodalisme yang layak dihancurkan. Kita tak lagi hidup di jaman feodal ketika para pejabat kerajaan harus menerima upeti dari para kawulanya yang dianggap hanya sekadar menumpang hidup di tanah-tanah milik raja. Hmm..tanah-tanah milik raja? Sehingga rakyat kecil, orang-orang desa yang lugu tapi pekerja keras selamanya tak berhak untuk menerima karunia dari tanah hasil olahan tangannya sendiri bahkan?
Ingat aksi di depan kantor DPRD, Walikota, KEJARI, Pendopo dan KPU Kab Sukabumi tidak luput dari gelombang Demonstaran. Aksi itu tak berjalan mulus. Barisan kami "dihancurkan" dengan bentrokan . Walau begitu kami sanggup menata barisan kembali dan mundur perlahan dengan lagu-lagu perjuangan
Kami terus mberanikan diri untuk melangkah Revolusi dan melawan barisan polisi tampak tak lagi mengejar.
Ahonk tak sanggup melanjutkan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di otaknya. Di mana kira-kira Ima berada? Mengapa begitu lama Ima tak muncul? Ima seperti hilang ditelan bumi. Betapa rasa rindu menghantarkan bayangan-bayangan wajahnya. Ahonk tak bisa melupakan tapi juga tak tahu di mana mesti mencari. Tak ada kabar yang lewat. Berserah pada waktu barangkali cukup mengusir rasa rindu.
Ia mulai menyalakan rokok. Menghisap kuat lantas menghembuskan asapnya dengan tenang. Malam hampir pagi. Beberapa bintang masih tampak. Juang menikmati bintang-bintang dari balkon. Ia pun ingat Pythagoras tua yang dari atas balkonnya mengamati letak bintang-bintang. Dari sana juga barangkali ia meletakkan filsafat hidupnya..karena melihat bagaimana alam bergerak begitu kosmos, teratur taat pada hukum-hukumnya yang harmonik. Getarannya yang lembut menimbulkan nada-nada musik yang hampir sepenuhnya matematis. Tak heran bila kemudian Pythagoras dikenal juga sebagai salah satu peletak dasar numerology. Tapi Pythagoras, tak main-main dengan mistik yang ajaib. Sepenuhnya ia mendasarkan ramalan kehidupan dari angka-angka yang sekaligus juga merupakan suatu system tata surya. Saking terpesonanya pada matematika, ia percaya bahwa di balik angka-angka matematis terdapat juga makna misteri yang tersembunyi yang dapat mengatur langkah dan irama kehidupan manusia hingga ia berkesimpulan bahwa hakikat segala sesuatu adalah angka-angka.
Lagi, Pythagoras merupakan salah satu filsuf terkemuka dari jaman kuno Yunani. Ia hidup sekitar abad ke-6 sebelum masehi. Pythagoras yang cerdas memang memberikan banyak sumbangan penting bagi umat manusia, terutama dalam hal musik dan matematika, bahkan theologi. Bila orang mulai percaya terhadap angka-angka nasib yang ditawarkan di televisi melalui SMS atau di tempat-tempat lain, baiklah orang tersebut juga mulai mempelajari Pythagoras sehingga menemukan kekayaan filsafat Pythagoras beserta kekeliruan dan kekonyolannya. Pythagoras juga menasehati agar orang tetap bisa menjaga ingatannya dengan baik seharusnya rajin membaca puisi sebelum dan sesudah tidur. Juang pun percaya karena di dalam puisi terdapat irama matematis sebagaimana lagu-lagu Jawa juga mengenal guru wilangan atau guru bilangan.
Kami berlari
dari kejaran dan perburuan
Wajah-wajah seram seperti hadir
di kepala kami
"Hantu?"
" Oh, bukan. Bukan. Itu hanyalah bayangan aparat keamanan yang seram"
Daun-daun gemerisik membisikkan pesan Rakyat
Dongengan nenek moyang dan danyang-danyang desa
Bulan kusut masai di antara tarian awan-awan hitam
Petaka rakyat
Tiada juang tanpa rintangan
Tiada menang tanpa tantangan
Tiada kumbang tanpa penyengat
Tiada bunga tanpa kelopak
Tiada senang tanpa keringat
Tiada jaya tanpa bekerja
Dalam musibah pasti ‘kan ada hikmah
Habis gelap pasti ‘kan terbit terang
Sabar, tawakkal, serta berjuang
Tanpa menyerah dan putus asa
Di dalam menggapai matahari
Menggapai segala cita-cita
Doaku, Sayang, selalu menyertaimu
Semoga Tuhan berkenan mengabulkan
Agar diberikan kemudahan
Kemudahan serta kelapangan
Di dalam menggapai matahari
Menggapai segala cita-cita...
Ahonk turun dari Motornya. Menyusuri jalan sebentar lalu menancap lagi gas motornya menuju Menuju Istana Rakyat. Rasa kantuk mulai menyerang. Juang di atas keramik di ruang depan. Dalam nyenyaknya, Juang bermimpi: meloncat dari Pancoran menggapai matahari sebagaimana Anoman kecil menggegerkan dunia para dewa.
Salam OPOSISI RAKYAT
jangan mencari Tuhan kemana-mana
Sesungguhnya Tuhan Bersaman orang-orang Tertindas
Diposting oleh
Fraksi Rakyat [Suara Pembebasan] The Power Of Civil Society
di
01.47
Tidak ada komentar:
Label:
Cerita santai
Langganan:
Postingan (Atom)